Pengalaman Kuliah di Swedia proses Ujian Unik & 18 Jam Berpuasa – jalan Tri Ariyani, wanita asal Sidoarjo Jatim, untuk sekolah luar negeri tidaklah gampang Ia wajib menghadapi kegagalan sebanyak enam kali, merasa dari LPDP hingga StuNed Belanda. bersama dengan kegigihannya, ia selanjutnya sukses kuliah magister biomedicine dengan beasiswa dari pemerintah Swedia.
Pengalaman Kuliah di Swedia proses Ujian Unik & 18 Jam Berpuasa
Ia menjelaskan keliru satu sikap yang wajib dimiliki oleh beasiswa hunter adalah persistensi. “Biasanya kalau 1-2 beasiswa itu untuk studi dulu ya. lantas jangan gampang menyerah. lantas terus berupaya dan Mengerjakan perbaikan dari kegagalan-kegagalan sebelumnya,” ujar Tri kepada Indonesia Mengglobal beberapa saat yang lalu.
Mahasiswa Uppsala University itu menambahkan kualitas pengajarnya yang kerap menerbitkan jurnal ilmiah bersama validitas menjadi alasan utama pengen menimba pengetahuan di Swedia.
“Di sini juga risetnya lumayan maju. jikalau sistem limfatik di manusia itu lulusan Uppsala termasuk dan banyak ulang penelitian lain yang lahir di sini,” imbuhnya.
Tri Ariyani, di halaman kampusnya, di Uppsala University, Swedia
Selain itu, proses ujian di universitas tersebut unik. gara-gara mahasiswa diberikan selagi lima jam didalam Mengerjakan ujian. salah satu alasannya adalah supaya mahasiswa tidak tertekan dan jadi tidak dikejar waktu.
“Jadi kami itu enjoy saat melakukan ujian itu, bahkan boleh bawa makanan, snack, minuman hangat, boleh sambil ngemil. Pertama saya kaget, akan tetapi ternyata enjoy banget,” tambahnya.
Selain itu, mahasiswa yang tidak lulus bisa ulangi sampai lima kali. hal ini sebagai wujud penghargaan kesegaran mental kepada mahasiswanya. gara-gara saat seorang mahasiswa tidak lulus ujian, dapat lantas karena sedang sakit atau tidak fit.
Salah satu tantangan kuliah di Swedia adalah durasi puasa Ramadhannya 16-18 jam. biasanya Azan Magrib di atas jam 20.00 malam kemudian Subuhnya jam 04.00. karena perihal itu, Tri wajib membagi waktu dengan jadwal perkuliahannya.
“Apalagi course aku yang semester ini cukup padat gitu jadwalnya. ada ke lab, ke kampus datang tugas-tugas, namun ya bismillah lah ya kami coba,” tambahnya.
Ia mengatakan banyak warga Muslim di Swedia, di antaranya adalah imigran asal Suriah. Ia kerap menemui wanita berkerudung dikala naik transportasi umum.
“Makanan halal terhitung lumayan banyak, lebih-lebih di supermarket biasa pun datang daging yang halal, ngga memerlukan ke supermarket khusus,” tandasnya.
Untuk aktivitas ibadah di kampus pun tidak susah gara-gara kampusnya meresmikan ruangan ibadah untuk semua agama. Ia dapat menggelar sajadah di perpustakaan untuk salat.
“Alhamdulillah ngga datang kesulitan Komunitas pun datang komunitas ngaji bareng persis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Swedia,” pungkasnya.
Tulisan ini dulu dimuat di Indonesia Mengglobal ditulis oleh Rio Tuasikal.